Final exams udah makin deket aja, jelas dong kita se-geng nangkring di perpus terus,dari acara lunch, coffee break sampe nge-pub diwarnai diskusi-diskusi kecil sekitar Intellectual Property, maklum, kita anak-anak IP classes. Tapi eeer.. kenapa semakin saya belajar, semakin saya puyyyeeeng sama rezim ini. aduh gawat. Coba aja baca dikiiit soal paten obat-obatan, ini bener bener gila, sekitar 70% pharmaceutical industry diinvestasikan untuk obat-obatan ngga penting sebangsa obat kecantikan, kesuburan, multivitamin, yang notabene manfaatnya dimanfaatkan untuk negara-negara yang mampu mengkonsumsi, sementara developing countries seperti kita ya silahkan urus sendiri tu obat malaria dan TBC, yang harganya makin mahal karena compulsory licensing ribetnya bukan main. ah sudah gila. Lucu juga, di satu belahan dunia, orang-orang tampak cantik jelita dengan obat yang bikin rambut mengkilat dan pembesar boobs, sementara di belahan dunia lain, orang-orang pada mati karena obat-obatan kemahalan. Oh well..
Ada lagi orang-orang yang mencoba Patenting Life, dari DNA sequence sampe binatang semuaaaa dipatenkan (ada tikus yang bawa penyakit kanker untuk penelitian obat anti kanker udah keluar patennya, namanya Oncomouse), katanya for the sake of research and technology, ah masa?
Ada juga cerita obat anti retroviral HIV/AIDS yang terlalu mahal di Afrika karena industri ini, dan ada juga Artisemin, obat malaria yang so far paling tokcer, yang tumbuhannya hanya bisa didapat di Cina, sekarang lagi dicoba untuk dipatenkan, tumbuhannya lho, berarti ntar kalo patennya tembus, siapapun yang nanem ini tumbuhan kudu bayar royalti sama si patent holder. Ufff.. apa jadinya negara-negara dunia ketiga yang ngga mampu beli obat?
Satu lagi soal Intellectual Property yang ‘katanya’ the major purpose is to promote useful art and science. dan sekarang kita kesusahan karena semuaa ditempeli rezim ini, dari database yang ngga jelas kok bisa-bisanya factual information dilindungi demi investasi si pembuat database, sampai royalti buku-buku akademik yang alamaaakk mahalnya minta ampun. Masalah Peer to Peer filesharing lebih gila lagi, record companies udah mulai membabi buta menuntut ISP untuk nge-ban P2P usernya. holoh holoh.. belum lagi mengenai copy control yang ngga boleh dibongkar, loh, gimana kalo kita mo bikin back-up koleksi pribadi? gimana soal private use? gimana tentang fair dealing yang memperbolehkan kita share koleksi kita, loh, namanya juga PROPERTI, hak kita toh, mo dijual, mo dikasiin ke orang lain..
Sementara aktivis human rights di setiap international instruments gembor-gembor menyatakan keberadaan IP harus nomer dua setelah human rights, IP legislation adem ayem aja tuh, mana ada IP legislation yang menyebutkan kata "human rights", sementara Human Rights udah dari jaman Universal Declaration of Human Rights udah nyebutin nomer satu adalah "science and knowledge" sampe jaman sekarang yang paling baru, Adelphi Charter yang menyerukan ke seluruh dunia kalo IP ngga boleh jadi barrier Human Rights, hihi.. ini namanya bertepuk sebelah tangan!
Jadi udah jelas dong, exam essay questions yang akan saya jawab adalah.. Human Rights, Technological Protection Measure (and how to circumvent it ^_^) and Limitations and Exceptions alias bagaimana cara menggunakan limitasi sebangsa educational purposes dan private use, hehe. Untuk kita-kita di developing countries, mendingan cari jalan buat ngeles aja deh dari IP, daripada jatuh sengsara. ^^;;